Politik Itu Cuma Bikin Perpecahan

Lilin

Politik Itu Cuma Bikin Perpecahan? Benarkah?

Bisa benar bisa tidak, 17 April 2019 telah terjadi PEMILU (Pemilihan Umum) untuk Presiden & Wakil Presiden, DPR RI, DPD dll. dimana saat itu dan sebelumnya telah gencar di media sosial seperti halnya facebook twitter atau juga di aplikasi obrolan / chatting seperti Group WhatsApp Keluarga atau Alumni misalnya.

Yang paling mencolok adalah soal Pemilihan Presiden, tidak dapat di pungkiri bahwa terdapat 2 kubu atau bahkan 3 kubu (satu kubu golput ini tidak perlu dihitung sebenarnya) yang sering di sebut dengan kubu Cebong & Kampret.

Tidak dapat di pungkiri bahwa di sosial media mereka saling serang, saling menjatuhkan mental satu sama lain atau bahkan saling lempar HOAX (Berita/Kabar Bohong) , saling lempar kesalahan saling lempar hinaan atau bahkan hasutan.

Di Negeri yang katanya (Negeri +62) makmur dan berbudaya luhur ini ternyata masih kental hubungannya dengan isu-isu klasik berdasarkan Rasial atau Agama sebagai bahan saling menjatuhkan.

Yang paling menyakitkan adalah saat isu Rasial di pakai untuk mengadu domba, lalu yang paling miris lagi adalah saat Agama di jadikan bahan propaganda demi untuk menjatuhkan pihak lawan, atau bahkan mengambil sepenggal-sepenggal ayat lalu di sebarkan dengan dibungkus kata-kata mutiara manis demi untuk memenangkan jagoannya dengan jargon-jargon dan janji manis namun hati busuk itu.

Sudah berkali-kali terjadi, dan 2 kali pula dengan calon yang sama pula. Lalu kenapa masih menggunakan cara lama untuk saling ber-adu otot dan jempol keriting di sosial media? sampai-sampai rela untuk membuat berita-berita palsu dan nekad pertaruhkan kehormatan diri sendiri demi untuk bisa memenangkan jagoannya. Lalu? apakah ada keuntungan yang sangat besar kalau memang jagoannya itu nanti menang dan berkuasa di Negeri Tercinta ini? atau mungkin hanya mendapat kepuasan batin, dan selanjutnya dalam waktu yang sedikit lama atau setelah jagoan dilantik mulai menuai kekecewaan yang teramat berat?.

Dan saat ini masih ramai pula (April 2019) tentunya masih hangat di sosial media, masih saling serang, saling hina, saling ejek satu sama lain. Padahal sang pendukung berat jagoannya itu sebenarnya tidak paham dengan politik, dan lalu demi kepuasan batin atau mendapatkan keuntungan sampai rela sebar fitnah sana-sini hingga persaudaraan-pun akhirnya terputus.

Dan masih teringat pula sebelum waktu pemilihan, saling klaim terbanyak pendukungnya lalu berlomba-lomba siapa yang paling banyak massa (pendukungnya) saling pamer sana-sini saling hujat sana-sini menjadi semakin ramai dibahas.

Pada saat pemilihan / voting dengan cara coblos mencoblos, yang saya lihat paling dominan adalah menentukan siapa yang akan menjadi presiden & wakil presiden di periode berikutnya. Dan electional party yang seharusnya sebagai ajang pesta demokrasi dan berbahagia bersama itu menjadi puncak dari saling klaim suara terbanyak. Tidak diam di situ saja, akan tetapi salings ebar kebodohan kebodohan yang sama sekali tidak sistematis di media sosial atau bahkan di lingkup keluarga.

Cukuplah kita bertikai lewat jari, karena Tuhan Menciptakan Tangan & Kaki untuk saling baku hantam.(hush) Cukup sudah baku hantam, pemilihan suara sudah usai. Yok kita awali lagi dengan berjabat tangan, tak usah saling klaim dan tunjukkan kebodohan yang semakin memperlihatkan kualitas pendukung salah satu CaPres (Calon Presiden).

Tak usahlah curiga ke siapapun, entah KPU curang, ini curang itu curang, merasa di curangi ini itu ini itu, teknologi ini itu dan ini itu.
Sudah cukup sampai disini, karena tidak dapat di elakkan lagi kalau sudah banyak saudara kita yang rela lelah badan lelah hati untuk jaga TPS (Tempat Pemungutan Suara) atau pihak-pihak yang menjadi jembatan tersalurnya surat suara ke tempat-tempat yang sulit dijangkau, atau petugas KPU atau bahkan Karyawan / Petugas yang mengawasi kelancaran situs KPU, seperti halnya sysadmin, programmer, engineer dll., mereka sudah cukup lelah. Tak usahlah protes kalau terjadi kecurangan, mereka sudah lelah masih saja dituduh seperti itu.

Cukup, tunggu hasil akhir perhitungan suara dan tunggu siapa pemenangnya, karena kita juga tahu kalau semua dihitung secara manual.

Cukup bertikainya, mari kita saling bergandengan tangan membangun Indonesia Menjadi Lebih Bermartabat!

Jadikan Politik itu untuk menyambung persaudaraan antara sesama warga negara manusia dan penduduk bumi.